Susahnya punya nama Indonesia di Amerika March 31, 2007
Posted by amerikampungan in Uncategorized.4 comments
Shakespeare boleh saja mengatakan, “What’s in a name?”, karena dia nggak pernah merasakan punya nama Indonesia…. yang ejaan lama… di Amerika. Sebelum ke Amerika saya nggak pernah terpikir bahwa nama saya akan membuat dahi banyak orang Amerika berkerut, tapi persis itulah yang terjadi. Tiap kali orang membaca nama saya yang indah (Harijanto Tjahjono), pertanyaan pertama yang muncul pasti “How do you pronounce your name?”, atau, kalo bulenya agak nekat, dengan tertatih2 dia coba membaca nama saya, “Ha… Ri… Han.. To… Dejah…” Sampai disini biasanya dia menyerah, kemudian meliat saya malu2, dan buntutnya bertanya juga “How do you pronounce your name?” Yeeee… dari tadi kek… Dan setelah beberapa kali mengalami masalah yg sama, biasanya langsung saja saya potong “You can call me Harry”. By the way, nama “Harry” ini bukan ciptaan saya, tapi pemberian room-mate saya yg pertama. Begitu melihat nama saya, tanpa ba-bi-bu bertanya macam2, dia waktu itu langsung memproklamasikan “I will call you Harry from now on“. Jadilah saya dibaptis dengan nama baru saya.
Tapi ada dua reaksi yang paling saya suka dari pengalaman 2 orang bule membaca nama saya. Yang pertama, begitu membaca nama saya dia melongo sejenak, kemudian bertanya, “Is that your name?” Waktu saya mengiyakan, dia berkata lagi “… And I thought Arnold Schwarzenegger was the most difficult name in America….”
Reaksi kedua lebih singkat tapi lebih bercerita banyak ttg kekagokan orang Amerika dengan nama saya. Waktu seorang bapak2 tua ingin menulis nama lengkap saya di cek, saya langsung sodorkan kartu Student ID saya, sambil mengatakan, “This is my name” Begitu membaca, Dia melotot, kemudian berseru singkat, “Jesus Christ…!” Hampir saja saya menjawab, “Bukan Pak, nama saya Harijanto…. asli orang Surabaya”.
HT
Bunga-bunga aspal di Boston June 24, 2006
Posted by amerikampungan in Uncategorized.1 comment so far
Datanglah di Boston saat Spring, dan anda pasti terpesona melihat indahnya bunga-bunga di sepanjang jalan-jalan atau taman-taman, berwarna-warni dari segala macam jenis bunga seperti tulip, mawar dll. Akan tetapi jika anda datang sehari saja kecepatan, anda tak akan melihat satu bunga pun.
Kok bisa begitu? Ya bisa saja, lha wong, bunga-bunga itu memang ditanam oleh pemerintah kota tiap musim semi dan pasti mati waktu Winter. Pertama kali saya menyadari hal ini saya berpikir “Sinting juga pemerintah Boston ini, susah-susah menanam bunga yang pasti mati tiap tahun…”. Tapi harus diakui, bunga-bunga tersebut menambah indahnya pemandangan kota, segar dan hijau.
Pada saat yang sama saya juga sedih jika teringat suasana perkotaan di Indonesia yang umumnya gersang dan kering. Usaha penghijauan sangat minim di kota-kota kita, padahal kalau dipikir-pikir mana sih yang tanahnya lebih subur, Boston atau, misalnya, Surabaya? Koes Plus aja mengatakan bahwa di Indonesia tongkat kayu ditanam bisa tumbuh. Tanah kita jauh lebih subur daripada mereka. Bedanya hanya sikap dan pengelolaan kita aja. Sedih ya?
HT
Amerika dan budaya membuang June 22, 2006
Posted by amerikampungan in Uncategorized.1 comment so far
Malam-malam dua hari lalu saya baru saja mengambil 2 barang gratisan : microwave dan vacuum cleaner. Dua barang ini masih dalam kondisi bagus dan lumayan baru, tapi toh diberikan cuma-cuma oleh pemiliknya karena mereka akan pindah ke state lain dan gak mau repot-repot membawa dua barang besar tsb.
Ini hal lain yang saya amati dari budaya negeri ini : Orang Amerika lebih cepat membuang barang. Jika anda sabar menunggu, anda bisa mendapatkan banyak barang kebutuhan rumah gratisan: mulai dari peralatan dapur, tv, sofa, microwave, meja belajar, sampai bahkan tempat tidur! Coba cek link :www.craigslist.org, cari link kota dimana anda akan bermukim, dan anda bisa mencari banyak barang bekas yang murah-murah, atau bahkan gratis!
Kenapa orang Amerika senang membuang? Hmmm…. jawaban lengkapnya mungkin harus menunggu ahli psikologi ekonomi (atau ekonomi psikologi?) untuk dianalisa luar dalam, tapi menurut saya ini disebabkan dua faktor:
- Harga barang relatif lebih terjangkau bagi ukuran penghasilan orang Amerika (yang kalau dirupiahkan tentunya jadi mahaaaal sekali)
- Orang Amerika senang membuang
Eh, tunggu dulu, jawaban kedua itu isinya cuman mengulang pertanyaan ya? Tapi maksud saya jawaban terhadap pertanyaan tersebut kayaknya memang harus merujuk pada budaya orang Amerika yang lebih senang praktisnya daripada harus repot-repot. Di negeri ini segala sesuatu kalau bisa dilakukan dengan cepat dan dengan usaha seminimal mungkin. Karena itu phone banking, belanja on-line, drive-thru restaurant laku keras dan -kalo gak salah- berasal dari negara ini juga. Apakah anda setuju? Atau memiliki penjelasan lain? Silakan berikan komentar anda.
HT
Basa-basi gaya Amerika June 20, 2006
Posted by amerikampungan in Uncategorized.1 comment so far
Jika anda pertama kali datang ke Amerika, salah satu hal yang mungkin akan langsung terasa adalah perbedaan gaya menyapa orang Amerika. Sapaan “How are you?” (atau yg. sejenisnya) dengan murah akan diucapkan oleh orang Amerika kapan saja mereka bertemu orang (khususnya yang mereka pernah kenal). Begitu murahnya sapaan ini diberikan pada banyak orang sehingga kadang lebih terasa sebagai basa-basi. Karena itu tidak usah terlalu pusing memberikan kabar anda yang sebenarnya jika disapa orang di jalan. Sekalipun anda lagi bete berat karena mobil anda tabrakan, misalnya, tetap saja jawab sapaan orang dengan (misalnya) “Good, how are you?”, karena mereka juga sebetulnya tidak sedang benar-benar menanyakan kabar anda, tapi sedang berbasa-basi menyapa anda! (kecuali, tentunya, jika anda kenal baik dengan orang yang menyapa anda, suasana sedang santai, dan anda merasa bahwa dia memang benar-benar ingin tahu kabar anda).
Urutan sapaan seperti ini cukup lazim sehari-hari:
(John dan Harry berpapasan di jalan)
John : Hi Harry, How are you?
Harry : Hi John, I’m Good, How are you?
John : Good.
(mereka pun bablas ke tujuan masing-masing. Yang penting kan sudah menyapa!)
Jika anda berada di Amerika, biasakan untuk menyapa (dan disapa) dengan gaya seperti di atas. Murahlah untuk menyapa orang di jalan, sekalipun anda tidak betul-betul ingin tahu kabar mereka, ingat, ini cuman basa-basi!
HT
Football, eh.. Soccer dan kebanggaan Amerika June 15, 2006
Posted by amerikampungan in Uncategorized.1 comment so far
Jika anda adalah seorang gibol (gila bola) dan akan ke Amerika, bersiap-siaplah untuk berpuasa nonton sepakbola bola selama jangka waktu anda berada disini. Masyarakat Amerika bukanlah penggemar bola (atau soccer, istilah untuk sepakbola yang kayaknya hanya berlaku di Amerika) dan karena itu pertandingan sepakbola jaraaaang banget diputar di TV. Ignorance orang Amerika terhadap sepakbola ini sudah mencapai taraf tinggi, sampai-sampai baru-baru ini seorang kolumnis menulis sebuah kolum yang pada intinya mengatakan bahwa orang Amerika perlu belajar mengapresiasi sepakbola, dimulai dengan menonton World Cup, karena sepakbola adalah bahasa internasional yang dikenal oleh semua bangsa.
Meskipun saya setuju dengan si pengarang, dalam hati saya berpikir bahwa argumennya tidak akan kena dengan orang Amerika, lha wong orang Amerika itu justru bangga bahwa negara mereka itu paling beda di antara seluruh bangsa lainnya. Dan benar juga… besoknya langsung muncul surat pembaca di koran tsb. yang membantah bhw. orang Amerika perlu mengapresiasi sepakbola dan bahkan mengatakan bahwa sepakbola itu stupid dan tidak populer di Amerika karena (ini saya kutip langsung):
- I find soccer boring.
- Soccer does not appeal to the American public.
- There’s not enough scoring. They run around and around for an hour and a half,… once in a great while, somebody makes a great play and there’s a score…. I think it (sepakbola) is stupid.
- What kind of game ends at 93 minutes and 42 seconds? (mungkin maksudnya terlalu pendek, kali ya…) … No wonder the soccer fans are always rioting in the stands.
Dalam hati saya berpikir bahwa argumen-argumen ini justru semakin menggarisbawahi ignorance-nya orang Amerika terhadap sepakbola (atau malah terhadap budaya lain?). Oalaaahhh… Amerika, Amerika….
HT
How are you, what’s up dan apa kabar June 12, 2006
Posted by amerikampungan in Uncategorized.1 comment so far
Di kursus Inggris di Indonesia saya diajarkan untuk menyapa "How are you?" dalam bahasa Inggris. Balasan 'paten'-nya? Tentunya "I'm fine, thankyou". Tapi setiba di Amerika saya agak tergagap-gagap karena ternyata ada bermacam-macam cara menyapa: "How are you?", "How are you doing?", "How's life?", dan yang mula-mula agak membingungkan saya: "What's up?". Yang terakhir ini agak membingungkan (at least buat saya pribadi) karena secara literal bisa diartikan "Ada apa di atas?". Masih untung waktu pertama kali disapa beginian saya nggak mendongak ke atas sambil menjawab "Nggak ada apa-apa tuh di atas". Tiga sapaan pertama di atas lebih formal dan artinya kurang lebih "Apa kabar?" dan bisa dijawab "I'm good/fine"). Sedangkan sapaan "what's up?" biasanya diucapkan antar teman (jangan memakai ini dalam situasi formal) dan artinya kurang lebih "Lagi ngapain aja?". Jawaban yang umum untuk pertanyaan beginian biasanya "Not much" atau "Nothing new". Jadi mulai sekarang praktekkan dengan teman anda : "Whazzup, Man?"
HT
Not a thru, eh… through street June 12, 2006
Posted by amerikampungan in Uncategorized.add a comment
Coba perhatikan baik-baik tulisan pada dua tanda lalu lintas di gambar atas ini. Nggak keliatan kan? Sama dong… saya juga nggak kelihatan
. Tapi berani sumpah, tanda yang sebelah kiri bertuliskan "Not a Thru street", sedangkan yang sebelah kanan (kelihatan sedikit) bertuliskan "Not a through street" (saya bersedia disumpah di pengadilan deh kalo kagak percaya). Saya potret beberapa hari lalu di daerah Cambridge waktu menghadiri graduation lunch seorang teman di Harvard. Kenapa harus ada 2 ejaan ya? This is indeed a strange country…..
HT
Alamaakk June 9, 2006
Posted by amerikampungan in Uncategorized.add a comment
Pagi itu sekitar jam 7.15 awal Fall 2003. Langit Boston lagi sangat cerah. Rasanya pas dengan suasana hatiku yg segera duduk manis di B-Line perhentian Chesnut Hill yg akan membawaku ke Boston University. Biasalah kuliah jam 8 pagi teng. Aku pengunjung pertama gerbong itu. Mataku juga belum terlalu nyaman terbuka. Eeeh pas di perhentian berikutnya aku kaget… tiba-tiba di depanku sudah duduk seorang perempuan, bersandal jepit extra kumel, kuku-kuku kakinya kotornya minta ampun, bercelana piyama, dipangkuannya duduk sekeranjang cucian, kaosnya berlengan satu tali (karena lengannya 2 jadi 2 talis), … dan rambutnya itu… masih ber-krol (itu loh masih dipenuhi gulungan rambut) tapi bibirnya berlipstik… Mataku langsung terbuka full circle dan sambil tersenyum ke dia aku berlagak sopan bilang 'good morning… nice day huh!' padahal dalam hati aku berteriak "oh nestapa… di manakah gerangan aku … di T atau di tepi sungai siap-siap nyuci" … hidup di Boston memang unik… coba kalau di Jakarta, perempuan itu udah diteriakin sinting…. Ngomong-ngomong dia student di BU … itu juga karena aku ngintip BU-ID-nya yang nyelip di antara segepok kartunya yang terjuntai manis dari lubang-lubang keranjang cuciannya… Dia turun di 2 stop-an berikutnya. Syukurlah dia tidak meneruskan perjalanannya sampai ke kampus dengan kostum extravagansa itu. Kalau itu terjadi … alamaaakk . SL
Tatacara berak di Amerika June 8, 2006
Posted by amerikampungan in Uncategorized.4 comments
Salah satu hal yang paling memberatkan buat saya untuk tinggal di Amerika adalah berak di WC umum. Tentunya yang menjadi masalah bukanlah kebersihan, karena WC umum disini rata-rata sangat bersih. Yang menjadi masalah adalah masalah cebok (membersihkan pantat setelah berak). Di Indonesia saya terbiasa cebok dengan tangan dan air, sedangkan orang Amerika cebok hanya dengan menggunakan toilet paper (tissue gulung di kamar mandi), dan hanya itulah yang tersedia di WC umum. Alhasil, hati (dan perut) saya merana kalau terpaksa berak di WC umum, karena rasanya jijay jika harus cebok dengan hanya menggunakan toilet paper. Untungnya (ini kata para ahli biologi) manusia adalah mahluk yang paling mudah beradaptasi. Jadi setelah beberapa saat, saya berhasil menemukan cara untuk beradaptasi dengan kondisi ini. Jadi bagi yang akan berdomisili di Amerika, inilah tatacara berak di WC umum (ala saya tentunya):
- Rata-rata WC umum di Amerika menyediakan tissue kertas tebal (paper towel) untuk mengeringkan tangan (kalau kebetulan di WC umum yg anda masuki tidak ada, ya… itu nasib anda). Tariklah tissue tsb. sepanjang lengan. Dan…. ehm… lebih baik pastikan saat itu tidak ada orang lain di WC, karena nanti anda dipelototi orang bule, dikira maling tissue.
- Basahi tissue tersebut dengan air sampai benar-benar basah. Bawa masuk ke dalam booth toilet anda.
- Laksanakan upacara buang hajat anda. Sambil berak, robek tissue panjang tersebut menjadi 4 bagian.
- Setelah selesai berak, bersihkan pantat anda dengan bergantian menggunakan toilet paper kering (yg sudah ada di dalam), dan tissue basah (yang anda bawa masuk).
- Jangan membuang tissue kertas tebal (yang anda bawa masuk) ke dalam lubang toilet, karena membuat mampet. Bungkus semua tissue tersebut, bawa keluar (lebih baik waktu nggak ada orang) dan buang di tempat sampah. Aman!
- Jangan lupa berdoa mengucap syukur karena anda berhasil berak dan cebok dengan bersih, tidak seperti orang bule yang cebok keringan…. Hiiiiiii…..
HT
Malu bertanya, sesat di jalan… Malu menjawab, malu-maluin! June 8, 2006
Posted by amerikampungan in Uncategorized.add a comment
Ini adalah kisah dua orang teman saya, sebut saja nama mereka Rollen dan Erik. Beberapa hari setelah mendarat di Amerika, mereka memutuskan untuk berbelanja bersama-sama di sebuah supermarket besar dekat apartemen mereka. Setelah selesai membayar belanjaan mereka, eh… tiba-tiba saja seorang pegawai supermarket tersebut mendekat dan mengajukan satu pertanyaan. Dengan pe-denya si Erik menjawab, "Yes!" Rollen, yang tidak mendengar pertanyaan tersebut, kemudian bertanya pada Erik, "Eh…. orang itu tadi bertanya apa, sih?". Rollen menjawab,"Aku juga nggak tahu….. ngomongnya nggak jelas sih!". Dua orang ini kemudian melongo melihat si pegawai tahu-tahu saja langsung mengambil keranjang belanjaan mereka dan menaruhnya di ban berjalan yang membawa keranjang tersebut ke…. underground garage, padahal mereka tidak membawa mobil! Dengan malu-malu mereka kemudian menjelaskan pada pegawai tersebut masalahnya. Mangkanya, kalau nggak jelas, tanya aja…..
HT