Ternyata di Amerika ada maling juga June 5, 2008
Posted by amerikampungan in Uncategorized.trackback
Saya baru saja kehilangan si Merah, sepeda pemberian salah seorang teman saya yang pindah ke Washington DC (ST, jika engkau membaca ini, maafkan daku ya, sepeda peninggalanmu hilang!). Ketika pertama kali mendapatkan si Merah saya cukup bersemangat karena bisa sedikit berolahraga, bayangannya sih bakal naik sepeda ke kampus tiap hari, seperti yg banyak dilakukan orang2 bule. Tapi niat itu jadi buyar setelah ternyata saya langsung ngos2an, pantat sakit, kepala puyeng setelah naik sepeda sebentar saja. Dan sebagai seorang couch potato sejati, solusi saya sederhana saja: Parkir saja si Merah di halaman belakang, digembok, dan saya kembali ke olahraga favorit saya: Nonton TV dan surfing Internet. (Bagi mereka yg merasa bhw ini bukan olahraga: pikirkan saja berapa kalori yg hilang dr jari saya karena harus terus menerus menekan remote control TV).
Yang menjadi masalah adalah bhw ternyata beberapa hari lalu si Merah hilang! Memang beberapa bulan lalu gembok yg mengunci si Merah dipotong oleh pihak manajemen gedung apartemen saya karena dia diparkir di tempat yang salah. Tapi tadinya saya pikir daerah dimana saya tinggal ini masih cukup aman, jadi ya saya biarkan saja. Naif juga ternyata saya ini ya (atau, sesuai dengan judul blog ini, kampungan?).
Kenaifan saya ini tapi mungkin bisa dimaklumi, karena di beberapa daerah di Amerika ini tingkat kriminalitas rendah sekali dan kejujuran masih dipraktekkan di tempat2 umum. Jika anda ke kota2 kecil di Amerika, masih banyak orang yang meninggalkan rumahnya tak terkunci (dan ingat bhw rumah2 di sini umumnya tak berpagar). Di kota2 kecil seperti ini malah masih banyak orang yang menjual buah atau sayur dengan “trust system”; barang dagangan tsb digelar saja di depan rumah tanpa penjaga, hanya diberi tanda yang menjelaskan harga barang2 tsb dan meminta supaya uangnya dimasukkan di keranjang yang disediakan. Bisakah Trust system ini diterapkan di Indonesia? Kayaknya kita semua sepakat: “Nggak mungkin!”. Tapi tidakkah ketika menjawab “Tidak mungkin”, itu justru semakin menggaris-bawahi rendahnya trust kita pada orang Indonesia? Kita secara tidak langsung berpikir bahwa kejujuran macam begini hanyalah ada di Amerika (atau Eropa) dan tidak di Indonesia, di antara orang2 bule dan bukan di antara orang2 kita. Jangan2 kita sebetulnya beranggapan bahwa Orang2 kita lebih banyak malingnya daripada yg jujur. Itu baru yang namanya Naif, bung!
Pesan terakhir saya bagi yang mencuri si Merah: please… please…. kembalikan sepeda tersebut. Saya tulis pesan ini dalam bahasa Indonesia karena pasti malingnya orang Indonesia, bukan orang Amerika. OK, it’s time for me to go back to my sofa and watch the TV.
HT
Comments»
No comments yet — be the first.