Holy Crepes! It’s a piece of sheet…! September 4, 2008
Posted by amerikampungan in Uncategorized.2 comments
Sebelum datang ke Amerika, saya sempat berpikir bahwa setelah 3-4 tahun di Amerika pastilah bahasa Inggris saya sudah selancar orang bule dengan pronunciation yg tak terbedakan lagi. Setelah lebih dari 5 tahun di Amerika, dengan bangga saya mengabarkan bhw bahsa Inggris saya masihlah jauh dari sempurna, meskipun sudah lebih baik daripada waktu pertama kali datang. Dan setiap kali saya berpikir bahwa bahasa Inggris saya sdh cukup baik, ada saja kejadian yang mengingatkan saya betapa masih amburadulnya bahasa Inggris saya.
Contoh salah satu kejadian itu terjadi beberapa bulan lalu waktu di pekerjaan part-time yg saya tekuni saya meminta seorang customer utk mengisi beberapa lembar formulir, “Could you fill out these sheets please?” Sambil tersenyum customer tsb mengingatkan bahwa saya harus berhati2 dng pronunciation saya karena yang dia dengar adalah “Could you fill out this shit, please?” Celaka!
Beberapa minggu lalu mispronunciation saya kembali mempermalukan diri saya. Saya bermaksud memberitahu seorang teman bule saya bahwa di dekat rumah saya ada satu cafe yang menjual crepes (semacam pancake/pannekuk) yang enak sekali: “I really like the craps (maksudnya:crepes) in this cafe near my house“. Karena pronunciation saya yg keliru teman saya menjawab sambil tertawa ”What do you mean? You like to eat craps (tahi/kotoran)?”. Masih juga tidak sadar akan kesalahan saya, saya menjawab, “Yes, The craps are really good”…. Sesudah dia betulkan saya baru nyadar bahwa selama ini saya dengan bangga mengatakan pada orang2 bahwa saya makan tai….
HT
Ternyata di Amerika ada maling juga June 5, 2008
Posted by amerikampungan in Uncategorized.add a comment
Saya baru saja kehilangan si Merah, sepeda pemberian salah seorang teman saya yang pindah ke Washington DC (ST, jika engkau membaca ini, maafkan daku ya, sepeda peninggalanmu hilang!). Ketika pertama kali mendapatkan si Merah saya cukup bersemangat karena bisa sedikit berolahraga, bayangannya sih bakal naik sepeda ke kampus tiap hari, seperti yg banyak dilakukan orang2 bule. Tapi niat itu jadi buyar setelah ternyata saya langsung ngos2an, pantat sakit, kepala puyeng setelah naik sepeda sebentar saja. Dan sebagai seorang couch potato sejati, solusi saya sederhana saja: Parkir saja si Merah di halaman belakang, digembok, dan saya kembali ke olahraga favorit saya: Nonton TV dan surfing Internet. (Bagi mereka yg merasa bhw ini bukan olahraga: pikirkan saja berapa kalori yg hilang dr jari saya karena harus terus menerus menekan remote control TV).
Yang menjadi masalah adalah bhw ternyata beberapa hari lalu si Merah hilang! Memang beberapa bulan lalu gembok yg mengunci si Merah dipotong oleh pihak manajemen gedung apartemen saya karena dia diparkir di tempat yang salah. Tapi tadinya saya pikir daerah dimana saya tinggal ini masih cukup aman, jadi ya saya biarkan saja. Naif juga ternyata saya ini ya (atau, sesuai dengan judul blog ini, kampungan?).
Kenaifan saya ini tapi mungkin bisa dimaklumi, karena di beberapa daerah di Amerika ini tingkat kriminalitas rendah sekali dan kejujuran masih dipraktekkan di tempat2 umum. Jika anda ke kota2 kecil di Amerika, masih banyak orang yang meninggalkan rumahnya tak terkunci (dan ingat bhw rumah2 di sini umumnya tak berpagar). Di kota2 kecil seperti ini malah masih banyak orang yang menjual buah atau sayur dengan “trust system”; barang dagangan tsb digelar saja di depan rumah tanpa penjaga, hanya diberi tanda yang menjelaskan harga barang2 tsb dan meminta supaya uangnya dimasukkan di keranjang yang disediakan. Bisakah Trust system ini diterapkan di Indonesia? Kayaknya kita semua sepakat: “Nggak mungkin!”. Tapi tidakkah ketika menjawab “Tidak mungkin”, itu justru semakin menggaris-bawahi rendahnya trust kita pada orang Indonesia? Kita secara tidak langsung berpikir bahwa kejujuran macam begini hanyalah ada di Amerika (atau Eropa) dan tidak di Indonesia, di antara orang2 bule dan bukan di antara orang2 kita. Jangan2 kita sebetulnya beranggapan bahwa Orang2 kita lebih banyak malingnya daripada yg jujur. Itu baru yang namanya Naif, bung!
Pesan terakhir saya bagi yang mencuri si Merah: please… please…. kembalikan sepeda tersebut. Saya tulis pesan ini dalam bahasa Indonesia karena pasti malingnya orang Indonesia, bukan orang Amerika. OK, it’s time for me to go back to my sofa and watch the TV.
HT
Kita tidak miskin, kita masih bisa memberi pada orang lain April 26, 2008
Posted by amerikampungan in Uncategorized.2 comments
Sekalipun di Amerika berstatus sebagai orang miskin, tiga hari lalu saya memutuskan untuk meneruskan kebaikan yang pernah saya terima kepada orang yang membutuhkan. Kebetulan di apartmen saya ada stroller (kereta dorong bayi) yang sudah tidak terpakai lagi. Karena tidak ada orang yang kami kenal yang sedang membutuhkan stroller, kami putuskan untuk menawarkan stroller tersebut gratis pada siapapun juga yang butuh di boston.craigslist.org . Ini iklan yang kami pasang:
Free Stroller for those in need!
The Evenflo stroller and car seat (+ base) are a little bit old and the fabric’s color is a bit washed out, but they work just fine. We are the second owner and got them from a friend in used condition. We no longer need them as our baby has moved to Toddler’s carseat. Please e-mail me if you are interested. I would like to see them go to those who are in need and have little money (like me:)).
Keesokan harinya saya langsung menerima dua e-mail yang mengingatkan saya bahwa kemiskinan dan kesulitan uang itu ada di negara manapun, bahkan negara kaya seperti Amerika:
Hi my name is X i am writing to you on behalf of my best friend that is in desperate need. He is only 18 and his girlfriend is pregnant and due 6-7-07 but they said she is going to be due sooner now and he has a part time job working 4 hours a week for 10 bucks an hour and he needs all that he can get. I would hope you would be ok with passing it on to him. He would be very grateful. Thank you for your time.
Hi, my granddaughter is in need of a stroller. My daughter has been out of work for a while and is unable to buy her one. If the stroller is not already spoken for I would like to pick it up on Wednesday. My phone number is XXX-XXX-XXXX. Or you could just e-mail me. We are located in Y. Let me know.
Andaikan saya mempunyai dua stroller, dua orang ini akan saya beri masing-masing satu. Saya bersyukur bahwa di tengah kondisi keuangan pribadi yang juga seadanya, kami masih bisa memberi pada orang lain. Saya jadi teringat judul sebuah buku kecil yang pernah saya baca di Indonesia: “Nak, Kita tidak miskin, karena kita masih bisa memberi pada orang lain”, yang seolah-olah mendefinisikan ulang makna kekayaan: Kita “kaya” bukanlah ketika banyak uang, tetapi ketika kita membantu sesama. Dua hari kemudian penulis e-mail yang pertama itu datang pada kami. Dia mengambil stroller tersebut sambil berulangkali mengucapkan terimakasih. Saat memberikan stroller tersebut, saya sungguh merasa kaya…..
HT
Winter dan kaos kaki bau roti April 18, 2008
Posted by amerikampungan in Uncategorized.2 comments
Salah satu hal yang paling menyebalkan saat pergantian cuaca dari Winter ke Spring atau dari Fall ke Winter adalah merancang baju apa yang akan dipakai. Cuaca bisa berganti-ganti, kadang hujan, kadang panas, kadang malah turun salju atau es. Salah pakai baju, menderitalah anda.
Saat itu Winter sudah akan habis, di luar turun hujan rintik-rintik, sedangkan saya harus pergi kuliah. Tapi karena saya yakin bahwa hujannya tidak akan terlalu dashyat, saya putuskan untuk tidak memakai sepatu boot (yang adalah sepatu wajib saat Winter) dan hanya memakai sepatu kets. Begitu menginjakkan kaki di luar gedung apartemen, mulailah saya menyesal, karena saya baru sadar bahwa hujan yang turun bukan sekedar air, tapi es! Tapi karena sudah bakal terlambat kuliah, saya putuskan berangkat saja ke bus stop dekat rumah untuk menunggu bis. Karena terburu-buru mengejar bis, dua kaki saya masuk ke kubangan air yang bercampur es di dekat bus stop, dan air bercampur es itu langsung meresap masuk sepatu kets saya. Begitu saya duduk di bis, langsung terasa luar biasa nyerinya kaki saya karena terendam air es (Bagi yang nggak percaya sakitnya, adakan percobaan ini: masukkan kaki anda ke baskom yang berisi air campur es. Kalau anda bisa tahan lima menit saja, saya angkat topi deh buat anda).
Di kelas saya terpaksa ikut kuliah dengan kaki basah kuyup. Karena lama2 nggak tahan, di tengah perkuliahan saya nyelonong keluar (di Amerika dosen rata2 cuek, anda bisa nyelonong seenaknya). Sebagai Teaching Assistant saya memiliki kantor sendiri, sehingga langsung saja saya masuk ke kantor saya, buka sepatu dan kaos kaki, terus ganti pakai sandal (yang memang saya simpan di kantor saya). Kaos kaki dan sepatu basah saya? Tidak kekurangan akal, langsung saja saya jemur di heater (tiap ruangan di Boston pasti memiliki heater untuk musim dingin) yang panasnya saya setel maksimal. Bereessss!
Masuk lagi di kelas, saya harus sedikit menanggung malu karena tahu2 berganti mengenakan sandal. Tapi saya setel cuek saja, langsung duduk di kursi dan mengikuti perkuliahan. Dalam hati saya memuji ide kreatif saya.
Usai perkuliahan saya lenggang kangkung kembali ke kantor saya. Mendekati kantor tiba-tiba tercium aroma harum seperti bau roti yang dipanggang. „Wahhh, ada yang lagi panggang roti nih….“ begitulah pikir saya. Tapi begitu saya buka pintu kantor, masya Allah…. ternyata bau roti panggang itu datang dari… kaos kaki saya yang sudah mulai berubah kecoklatan karena terbakar. Celaka! Langsung saya angkat kaos kaki saya yang untungnya belum betul-betul terbakar. Malam itu saya pulang dengan dua pelajaran penting: Jangan salah memakai sepatu saat Winter, dan jangan meninggalkan kaos kaki anda di atas heater! Bahaya!
To hug or not to hug, that is the question April 8, 2008
Posted by amerikampungan in Uncategorized.add a comment
Setelah melalui pengamatan bertahun-tahun, akhirnya saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa semua bangsa di seluruh dunia ini sebetulnya bisa dibagi dalam dua kategori: Those who hug, and those who use their hands. Bukan, saya tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang ngeres, saya sedang berbicara tentang friendly hug yang orang berikan ketika berpisah atau bertemu dengan sesamanya. Orang Indonesia, seperti halnya kebanyakan orang Asia, menurut saya adalah non-hugging people. We shake hands! OK…. untuk sesama kaum perempuan mungkin masih ada sedikit kecenderungan untuk memeluk dan cipika-cipiki. Tapi in general, menurut saya, kita lebih cenderung menahan diri dari memeluk. Orang Amerika, di lain pihak, adalah hugging people. Mereka lebih terbiasa memberikan pelukan, bahkan lintas gender*! Coba anda perhatikan poem di bawah ini, yg isinya menurut saya menggambarkan bagaimana orang Amerika memandang tentang pelukan.
A hug is a greeting when we meet to say hello,
Or to say goodbye when we have to go;
It can hold us up when life gets us down,
And makes us smile, instead of frown.
A hug can be given for no reason at all,
And given to those, both big and small;
We should all hug another to show we care,
For to feel a warm hug, nothing can compare.
So stretch those arms without delay
And give someone a hug today.
Nah, bentrokan kultur bisa terjadi ketika orang Indonesia dan Amerika bertemu dalam setting yang informal dan akrab. Saya, misalnya , secara rutin harus bertemu dengan sepasang suami istri orang Amerika yg saya sudah akrab. Tapi toh entah sudah berapa sering kita bertemu, saya tetap merasa kagok tiap kali hendak mengucapkan selamat jalan. Should I hug…..? Should I shake hands….? Should I just wait for them to initiate the body-hugging or hand-shaking motion? Dan semakin saya ragu2, kelihatannya mereka juga semakin ragu2… The tension is unbearable!!
Jadi kalau anda ingin seperti orang Amerika, berlatihlah memberikan pelukan. Tapi jangan salahkan saya kalau anda ditampar karena memeluk istri orang!
HT
* Disclaimer: Seperti halnya setiap usaha pengklasifikasian terhadap perilaku manusia, simplifikasi tak dapat dihindari. Saya tidak mengatakan bahwa setiap orang Amerika senang memeluk & dipeluk atau bahwa setiap orang Indonesia tak senang dipeluk, tapi bahwa … aw, you know what I mean…
Susahnya punya nama Indonesia di Amerika (2) April 6, 2008
Posted by amerikampungan in Uncategorized.2 comments
Masalah lain dengan nama Indonesia di Amerika, khususnya nama Jawa, adalah nama-nama yang hanya terdiri dari satu kata dan tidak mempunyai nama keluarga (contoh yang terkenal tentu saja nama 2 orang presiden kita: Soekarno dan Soeharto, keduanya tidak mempunyai nama keluarga). Tapi berbeda dengan masalah di nama saya, masalah dengan nama satu kata macam begini ini adalah masalah formal-legal. Mengapa? Ini dikarenakan semua sistem administratif di Amerika (entah itu di sekolah, kantor pemerintah, bank, dll) mengandaikan bahwa semua orang memiliki paling tidak dua nama: Nama depan dan nama keluarga (Misalnya: John Kerry, Ronald Reagan). Alhasil ketika ada orang yang datang untuk urusan resmi ke kantor tsb. dengan nama yang hanya satu kata, mereka kekeuh bersikeras bahwa orang tersebut harus memberikan nama yang terdiri dari dua kata. Jadi bagaimana dong jalan keluarnya bagi orang-orang Indonesia dengan nama satu kata ini?
Paling tidak ada dua pemecahan yang pernah saya dengar. Yang pertama, nama orang itu dianggap sebagai nama keluarga, sedangkan untuk nama depan ditambahkan: FNU, yang tak lain dan tak bukan adalah singkatan: First Name Unknown! Jadi jika nama anda adalah Sutopo, misalnya, maka di semua dokumen resmi pemerintah nama anda akan menjadi “FNU Sutopo”! Teman saya yang harus rela namanya ditambahi FNU di depannya bercerita bahwa suatu kali dia harus ngantri di ruang tunggu dokter. Ketika tiba gilirannya, nurse keluar sambil memanggil “Fenu… Fenu…” Teman saya cuek saja karena dia tidak merasa punya nama begitu. Setelah beberapa kali dipanggil barulah dia ngeh bahwa si nurse sedang memanggil dia!
Pemecahan yang kedua adalah menganggap bahwa nama anda, yang satu kata itu, adalah sekaligus nama depan dan nama keluarga. Teman saya yang bernama Indrianti, misalnya, akhirnya harus pasrah namanya ditulis “Indrianti Indrianti” di semua dokumen resmi. Lucunya, ketika ia mengikuti upacara graduation dan semua orang dipanggil namanya untuk maju ke depan, dia pun dipanggil namanya sebagai “Indrianti Indrianti”.
Jadi jika anda kebetulan memiliki nama satu kata macam begini dan akan ke Amerika, bersiap-siaplah dengan segala keruwetan yang bakal terjadi!
HT
Surat terbuka untuk Bung Bondan (2) April 6, 2008
Posted by amerikampungan in Uncategorized.2 comments
Amarah saya masih menggelegak karena artikel2 anda yang menceritakan makanan2 enak tersebut (http://www.kompas.com/index.php/travel/jalansutra), dan saat ini saya ingin.. balas dendam (kalo kata tokoh2 di film silat, “Teachah… teach me kong fu… I want to take levenge”sambil kowtow berlutut di depan calon gurunya). Here’s my revenge…
Sebelum datang ke Boston salah satu makanan khas New England yang saya dengar dan saya incar adalah Lobster rebus. Saya tadinya mengira bahwa kita harus makan di restoran yg mahal untuk bisa makan lobster yang enak. Tapi ternyata tidak juga tuh… Mungkin sama seperti di Indonesia tempat makan yang enak kadang2 harus Amigos (Agak minggir got sedikit) dan bukan di restoran2 besar. Saya pernah makan lobster di restoran2 besar di Boston (Durgin Park dan Legal SeaFood), tapi saya tidak terlalu impressed. Karena itu ketika Summer tahun lalu seorang teman mengajak rame2 ke Rockport (kota di pinggir pantai sekitar 1 jam perjalanan dari Boston) utk makan lobster, saya tidak terlalu bersemangat. Tapi toh kami berangkat juga..
Setelah puas jalan2 di Rockport, teman saya langsung mengajak makan siang di tempat incarannya “Roy Moore Lobster”.
Tadinya saya kira restoran besar, ternyata tempatnya kecil dan hall depannya sumpek (bisa dilihat di foto di atas) karena di kanan kiri dijejali fish tanks yang terisi lobster2 dan ikan2 hidup yang baru ditangkap. Setelah ngantri cukup panjang karena saat itu sekitar jam makan siang, di ujung antrian kita ditanya, mau makan apa? Saya memilih 1 lobster ukuran medium dan clam chowder. Langsung saya diberi lobster yang baru saja direbus dengan butter di wadah plastik sambil ditunjukkan ruang makannya. Surprise, surprise… ternyata bagian belakang restoran ini adalah sebuah deck yang terbuka menghadap laut.
Langsung saja kami menyantap lobster rebus kami di deck belakang tersebut. Saya baru ngeh bahwa lobster segar itu ternyata rasanya heavenly, apalagi dicocol dengan butter cair yang tersedia sambil makan di pinggir pantai. Hmmmm… membayangkan saja saya langsung ngiler sekarang….. Lobsternya terasa padat tapi tidak alot, paduan rasa manis daging lobster dan butter yang agak asin2 itu betul2 Mak Nyuss waktu digigit… Nih saya kasih fotonya biar Bung Bondan dan para pembaca bisa merasakan penderitaan saya sewaktu membaca artikel2 JalanSutra (meskipun I suspect bahwa untuk Gourmand sekelas Bung Bondan kayaknya makan lobster beginian sih sudah biasa, tapi gak apa2 lah, at least pembaca di Indonesia bisa merasakan balas dendam saya).
Jadi… begitulah Bung Bondan… Balas dendam sudah saya laksanakan, semoga cerita dan foto2 di atas membuat pembaca merasakan penderitaan saya saat menikmati artikel2 anda..
Salam Ngilerrr,
HT
Surat terbuka untuk Bung Bondan April 6, 2008
Posted by amerikampungan in Uncategorized.add a comment
Bung Bondan Winarno,
Kita belum pernah bertemu, tapi ijinkan saya mengutarakan perasaan saya kepada anda: Saya marah! Betul-betul marah!! Selama beberapa hari ini saya seperti kesetanan membaca artikel-artikel anda di rubrik JalanSutra (http://www.kompas.com/index.php/travel/jalansutra), yang isinya menceritakan tentang berbagai makanan2 enak di berbagai penjuru tanah air. Sate Kambing, Soto Medan, Oseng-oseng Mercon, gulai ikan lele…. tahukah anda betapa tersiksanya saya membaca artikel2 tsb dan melihat foto2 makanan2 tsb sambil hanya bisa duduk di depan komputer di Boston? Tahukah anda bahwa banyaknya restoran Indonesia di kota Boston jumlahnya sama dengan jumlah rambut di kepala Tuyul, alias tidak ada sama sekali? Selama beberapa hari saya hanya bisa ngiler dan termimpi-mimpi tentang berbagai makanan enak tersebut. Teman saya mengatakan, “Sudahlah, engkau tidak usah membaca artikel2 tersebut…”, tapi saya tidak bisa! Saya sudah addicted terhadap makanan virtual yang anda sajikan di artikel2 tersebut.
Tindakan anda ini sama kejamnya dengan mengirimkan foto2 porno kepada narapidana di penjara khusus laki-laki. Oh, Maaf… bukan sama kejamnya… tapi lebih kejam… Paling tidak narapidana2 tersebut masih bisa bermasturbasi sambil berfantasi (atau melakukan hal2 lain yg lebih syerem). Lha saya? Masak saya disuruh makan Tuna sandwich sambil membayangkan makan Sate Ponorogo? Atau makan clam chowder sambil membayangkan soto ayam Ambengan? Tidak bisa bukan? Jadi saya tuntut anda bertanggung jawab dengan cara menghimbau pembaca anda untuk membuka warung makanan Indonesia di Boston, atau paling tidak mengirimkan makanan Indonesia kepada saya di Boston.
Salam ngilerrr,
HT
Yuuukkk, tamasya ke kuburan yukkkk… June 2, 2007
Posted by amerikampungan in Uncategorized.7 comments
Di Indonesia kuburan adalah tempat yang berkonotasi keramat. Setahu saya setiap kali orang pergi ke kuburan pastilah karena beberapa hal yang bersifat formal atau seremonial, seperti ada keluarga atau teman yg meninggal, atau ada acara keluarga untuk membersihkan kuburan, atau memang kerjanya menjaga atau membersihkan kuburan!!! Tanpa tujuan seperti itu, kuburan hanyalah menjadi tempat yang hiiii… syeeereemm. Image kuburan adalah tempat angker dan ngeri deh……yang di lukiskan ada setan gentayangan, ada pocong, dan teman sejenisnya…….
Anehnya, waktu sampai di Boston, kok saya melihat kuburan tuh jadi tempat yang ramai di kunjungi. Entah oleh turis lokal, nasional, maupun internasional, anak2dan bayi pun halal buat pergi kesana
. Mereka berkeliling dan berfoto disana. Saking tertarik nya dengan kuburan, mereka rela berhujan-hujanan dan bersalju-saljuan untuk berkeliling dan membaca tulisan2 di batu nisan itu satu persatu. Bahkan di kuburan tertentu yang ada orang2 yang lumayan terkenal dalam sejarah, misalnya di Granary burial ground, kuburan dekat Boston commons, tersedia guide untuk menjelaskan tentang sejarah kuburan tersebut & orang2 yg dikubur disana.
Orang-orang yang sinis dengan gejala ini dengan cepat bakal mengatakan bahwa itulah gejala komersialisme Amerika: Apapun yang bisa dijual bakal dijual, bahkan termasuk kuburan sekalipun. Mungkin ada benarnya juga, karena saya melihat bahwa orang Amerika memang pintar sekali mengemas apapun menjadi „layak jual“. Di Nevada misalnya, ada daerah padang gurun yang tidak memiliki daya jual apapun. Toh pemerintah setempat dengan pintarnya bisa mengubah padang gurun tsb. menjadi kota judi yang sekarang kita kenal sebagai Las Vegas. Dan jika anda berada di Las Vegas, salah satu paket wisata yang dijual adalah tamasya melihat Hoover Dam, yang tak lain dan tak bukan adalah… bendungan air… Bisakah anda membayangkan di Indonesia orang menjual paket wisata melihat bendungan?
Di pihak lain, fenomena kuburan sebagai tempat wisata ini juga menggarisbawahi salah satu hal yang saya kagumi dari orang Amerika: kecintaan mereka akan sejarah, khususnya sejarah bangsa Amerika. Di Amerika, pelajaran sejarah adalah pelajaran yang menarik, dan museum sejarah adalah tempat yang menyenangkan, bahkan bagi orang dewasa sekalipun. Tempat2 bersejarah, termasuk kuburan, selalu ramai dikujungi orang, mulai dari kakek2 hingga bayi. Bandingkan dengan negara kita, dimana pelajaran sejarah seringkali adalah pelajaran yang membosankan. Dan jangankan kuburan, museum di Indonesia pun cenderung menjadi tempat yang angker dan menyeramkan.
Karena itu, jika anda ke Amerika, jangan kaget kalau anda mendapat ajakan: Yuk, Tamasya ke kuburan yuuukkkk!!!!!
MGS & HT
Jika harus miskin, miskinlah di Amerika saja! March 31, 2007
Posted by amerikampungan in Uncategorized.5 comments
Di Indonesia dulu saya merasa gengsi kalo mengakui nggak punya duit, tapi Di Amerika ini dengan bangga saya memproklamasikan bahwa saya adalah orang miskin! Lengkap dengan pernyataan bahwa penghasilan saya di bawah standar, ada tanggungan istri dan anak satu. Mengapa demikian? Sederhana saja, supaya saya dapat tunjangan buat orang miskin (tapi saya nggak berbohong lho, berani sumpah saya memang betulan miskin utk ukuran Amerika).
Ini satu hal yang saya kagumi dari pemerintah Amerika Serikat: perhatian pemerintah terhadap fakir miskin besar sekali sehingga ada program macam2 utk membantu orang miskin. Saya jelas bukan WN Amerika, tapi toh waktu istri saya hamil, saya mendapatkan tunjangan susu, keju dan macam2 bahan makanan gratis (sampai sekarang). Kalau tidak bekerja, anda malah bisa melamar bantuan utk dapat uang tiap bulannya. Seorang teman Indonesia misalnya, berhasil mendapatkan uang $300 per bulannya plus ditambah kupon makanan (Food stamp) senilai $150 dari pemerintah, plus masih ditambah susu, keju dan macam2 makanan. Semuanya gratis! Dalam beberapa kasus anda bahkan bisa melamar utk dapat health insurance gratis, sehingga tiap ke dokter anda tak perlu bayar sepeser pun. Anak saya sejak lahir sampai sekarang tidak perlu membayar ongkos dokter apapun, padahal hampir tiap bulan kita ke dokter. Food Pantry, shelter ada dimana2 jika kita tidak punya tempat tinggal.
Tapi kalau membandingkan dng keadaan negara kita, mau tidak mau saya merasa trenyuh. Sekalipun di UUD 1945 jelas2 tertulis bahwa “Fakir miskin dan anak2 terlantar dipelihara oleh negara”, toh faktanya orang2 miskin Indonesia nggak ada yang ngopeni. Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah cerita di Jawa Pos bhw seorang Bapak memilih bunuh diri karena dia sdh tidak tahan hidup miskin dan sakit-sakitan, tanpa bisa ke dokter karena tidak punya uang. Saya tidak bisa bayangkan perasaan putus asa yang sedalam apa yg dirasakan Bapak tsb sampai dia memutuskan bahwa mati adalah opsi terbaik baginya. Hhhhh… saya jadi ingat judul sebuah buku kecil yang saya lihat waktu saya pulang ke Indonesia 2 tahun lalu: “Orang miskin dilarang hidup di Indonesia“.
HT


